Kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan syarat mutlak menuju pembangunan di segala bidang. Status gizi merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada kualitas SDM terutama yang rekait dengan kecerdasan, produktivitas, dan kreativitas.
Sementara itu, Indonesia menghadapi 4 masalah gizi utama sampai akhir masa pembangunan Janka Panjang Tahap 1(1969/1970-1994/95) yaitu:
- Kurang kalori protein dan obesitas/ kegemukan(masalah gizi ganda)
- Kurang vitamin A (KVA)
- Ganggua akibat kurang iodium (GAKI)
- Anemia zat besi
Kurang energy protein
Kurang energy protein (KEP) adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energy dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi angka kebutuhan gizi(AKG).
Klasifikasi
Berbagai istilah, klasifikasi, dan diagnostic telah di gunakan serta berubah-ubah dari masa ke masa.Di Indonesia, klasifikasi dan istilah yang di gunakan sesuai dengan hasil lokakarya antropometri gizi, 29-30 mei 1975.
- KEP ringan, bila berat badan menurut umur (BB/U)=80-70% baku median WHO-NCHS dan/ atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB)=90-80% baku median WHO-NCHS
- KEP sedang, bila berat badan menurut umur (BB/U)=70-60% baku median WHO-NCHS dan/ atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB)=80-70% baku median WHO-NCHS
- KEP berat, bila berat badan menurut umur (BB/U)=<60% baku median WHO-NCHS dan/ atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB)=<70% baku median WHO-NCHS
Manisvestasi klinis
KEP berat secara klinis terdapat 3 tipe yaitu kwashiorkor, marasmus, dan marasmik-kwash-iorkor. KEP ringan atau sedang disertai edema yang bukan karena penyakit lain disebut KEP berat tipe kwashiorkor
a. KEP berat tipe kwashiorkor
- Edema, umumnya seluluh tubuh dan terutama pada kaki ( dorsum pedis)
- Wajah membulat dan sembab
- Pandangan mata sayu
- Rambut tipis, kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah di cabut tanpa rasa sakit, rontok
- Perubahan setatus mental: cengeng, rewel, kadang apatis
- Pembesaran hati
- Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila di periksa pada posisi berdiri atau duduk
- Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas
- Sering di sertai: infeksi, anemia, diare.
b. KEP berat tipe meramus
- Tampak sangat kurus, hingga tulang terbungkus kulit
- Wajah seperti orang tua
- Cengeng, rewel
- Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada
- Perut cekung
- Sering di sertai: penyakit kronik, diare kronik.
c. KEP berat tipe merasmik- kwashiorkor
Gambar klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwashiorkor dan marasmus, dengan BB/U< 60% baku median WHO-NCHS di sertai edema yang tidak mencolok.
Pada setia penderita KEP berat, selalu periksa adanya gejala definisi nutrient mikro yang sering menyertai seperti xerophthalmia (definisi vitamin A) anemia (definisi Fe, Cu, vitamin B12, asam folat), stromatis (vitamin B,C), dll
Penatalaksanaan
Pasien KEP berat dirawat inap dengan pengobatan rutin sebagai berikut:
- Atasi/ cegah hipoglikemia
- Periksa kadar gula darah bila ada hipotemia(suhu aksla<35derajat celcius, suhu rectal 35,5 derajat celcius). Pemberian makanan yang lebih sering penting untuk mencegah kedua kondisi tersebut.
- Bila kadar gula darah di bawah 50mg/dl, berikan:
- 50 ml bolus glukosa 10% atau larutan sukrosa 10% (1 sdt gula dalam 5 sdm air) secara oral atau sonde/ pipa nasogastrik
- Selanjutnya berikan larutan tersebut setiap 30menit selama 2jam (setiap kali berikan ¼ bagian dari jatah untuk 2jam)
- Berika anti biotic
- secepatnya berikan makan etiap 2jam, siang Dan malam
2. Atasi/ cegah hipotermia
Bila suhu rectal <35,5 derajat celcius:
- Segera beri makanan cair/ formal khusus (mulai dengan rehidrasi bila perlu)
- Hangatka anak dengan pakaian atau selimut sampainmenutup kepala, letakan dekat lampu atau pemanas(jangan gunakan botol air panas) atau peluk anak di dada ibu, selimut
- Berikan antibiotic
- Suhu di periksa sampai mencapai >36,5 derajat celcius
3. Atasi/ cegah dehidrasi
Semua anak KEP berat dengan diare encer jika mengalami dehidrasi sehingga harus di beri:
- Cairan resomal/ penganti sebanyak 5ml/kgBB setiap 30menit selama 2jam secar oral atau lewat pipa nasogastrik
- Selanjutnya 5-10ml/kgBB/jam selama 4-10 jam berikutnya; jumlah yang tepat yang harus di berikan tergantung berapa banyak anak menginginkannya dan banyaknya kehilangan cairan melalui tinja dan muntah
- Ganti resomal/ pengganti pada jam ke-6 dan ke-10 dengan formula khusus sejumlah yang sama, bila keadaan rehidrasi menetap/stbil
- Selanjutnya mulai beri fofmula khusus.
4. Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit
Pada semua KEP berat terjadi kelebihan natrium tubuh, walaupun kadar Na plasma rendah Defisiensi kalium (K) dan magnesium (Mg) sering terjadi dan paling sedikit perlu 2minggu untuk pemulihan. Ketidakkeseimbangan ini ikut andil pada terjadinya edema (jangan obati dengan pemberian deundrik). Berikan:
- Tambahan K 2-4 mEq/kgBB/hari(=150-300mg KCL/kgBB/hari)
- Tambahan Mg 0,3-0,6 mEq/kgBB/hari(=7,5-15mgKCL/kgBB/hari)
- Siapkan makanan tanpa di beri garam
- Tambahan K dan Mg dapat di siapkan dalam bentuk cairan dan di tambahkan langsung pada makanan. Penambahan 20ml larutan pada 1liter formula.
5. Obati/ cegahinfeksi
Antibiotic spectrum luas dengan pilihan:
- Bila tanpa komplikasi, kotrimoksasol 5ml, suspensi pediatri secara oral , 2x sehari selama 5hari (2,5ml bila BB<4kg)atau
- Bila anak sekali berat (apatis, letargi) atau ada komlikasi (hipoglikemia, hipotermia, infeksi kulit, saluran nafas atau saluran kencing), beri ampisilin 50mg/kgBB/IM/IV setiap 6jam selama 2hari, kemudian secara oral amoksisilin 15mg/kgBB/IM/IV setiap 8jam selama 5hari. Bila amoksisilin tidak ada teruskan ampisilin 50mg/kgBB/IM/IV setiap 6jam secara oral.
6. Koreksi defisiensi nutrient mikro
7. Mulai pemberian makanan
8. Fasilitas tubuh kejar
9. Sediakan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/ mental
10. Siapkan follow up setelah sembuh