Terima Kasih telah mengunjungi blog aniqrafa.semoga bermanfaat

Sabtu, 30 Oktober 2010

masalah kesehatan reproduksi

        Indonesia dengan situasi geografis dimana terdapat 1300 pulau besar dan kecil, penyebaran penduduk yang belum merata, tingkat sosial ekonomi dan pendidikan belum memadai, sehingga menyebabkan kurang kemampuan dalam menjangkau tingkat kesehatan tertentu.

       Masalah kesehatan reproduksi menjadi perhatian bersama dan bukan hanya individu yang bersangkutan, kaena dampaknya luas menyangkut berbagai aspek kehidupa dan menjadiparameter kemampuan negara dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat. dengan demikian kesehatan alat reproduksi sangat erat hubungannya dengan kematian ibu (AKI) dan angka kematian anak (AKA). dengan survei kesehatan rumahtangga yaitu: AKI sebayak 3,9%/1000 dan AKA sebanyak 70%/1000. dengan demikian masalah ini merupakan tantangan besar bagi upaya meningkatkan sumber daya manusia. 

      Sebagai ketetapan yang di maksudkan dengan kesehatan reproduksi adalah kemampuan seorang wanita untuk memanfaatkan alat reproduksi dan mengatur kesuburannya(fertilitas) dapat menjalani kehamilan dan persalinan secara aman serta mendapatkan bayi tanpa resiko apapun dan selanjutnya mengembalikan kesehatan dalam batas normal.dalam survei yang di lahukan WHO, menetapkan 5 jenis ketentuan sebagai kriteria klasifikasi wanita yaitu: kesehatan, perkawinan, pendidikan, pekerjaan, dan persamaaan.
      Sadar akan keadaan demikian pemerintah dan di ikuti oleh kalangan swasta telah mendirikan pusat-pusat kesehatan untuk mendekatkan pelayanan terhadap masyarakat. di samping itu penyebaran bidan di desa merupakan gagasan pemerintah untuk menggantikan peranan dukun yang masih dominan di tengah masyarakat, sehingga mendapatkan pelayanan yang bermutu dan menyeluruh.meskipun angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian anak (AKA) masih belum dapat di turunkan dengan berarti. keadaan ini dapat berubah bila mengikut sertakan masyarakat menolong dirinya sendiri dalam bidang kesehatan, dengan secara aktf mengambil bagian untuk memelihara kesehatannya.
      Disamping itu dalam pelayanan dan pertolongan persalinan telah di upayakan dengan memakai sistem partograf WHO, sehingga ibu hamil dan bersalin dikirimkan pada tingkat garis"waspada". keberhasilan dalam pelaksanaan gagasan ini tergantung pada kemampuan dalam memberikan pengawasan selama hamil (antenatal) serta konsultasi gizi. keluarga berencana juga memegang peran penting untuk dapat mengatur jarak kehamilan, mengatur jumlah kehamilan (sehingga komplikasi dapat di tekan), dan meningkatkan usia kawin dan hamil sampai mencapai masa reproduksi yang sehat.
      Dengan demikian kesehatan reproduksi merupakan masalah vital dalam pembangunan kesehatan umumnya, karena tidak akan dapat di selesaikan dengan jalan melakukan tindakan kuratif (pengobatan), tetapi jauh daripada itu merupakan masalah masyarakat yang masih dapat di perbaiki. indonesia dianggap telah berhasil untuk mengatur kesehatan reproduksi melalui gerakan keluarga berencana, sehingga sampai saat ini, telah dicapai penurunan tingkat pertumbuhan penduduk 1,9% pertahun dari 4,2% pertahun pada tahun 1970 dan ditambah makin meningkatnya kesehatan.
     Meskipun demikian upaya untuk meningkatkan derajat kehidupan wanita melalui perluasan lapangan kerja, meningkatkan pendidikan dan persamaan hak dan kewajiban terutama kesehatan reproduksi. dilain pihak yang mengecewakan adalah makin meningkatnya faktor infeksi alat produksi, oleh karena terjadi semacam revolusi seksual yang menjurus kearah liberalisme, dengan makin derasnya arus informasi pada era globalisasi dunia. infeksi mempunyai akibat yang menyedihkan pada keshatan reproduksi yang berakhir dengan infertilasi (kemandulan) dan meningkatnya kejadian kehamilan ektopik (hamil di luar kandungan)
      Untuk mencapai sasaran agar tercapai kesehatan alat reproduksi perlu dilakukan berbagai upaya pencegahan dan diagnosa dini. masalah dan tindakan yang berkaitan dengan peningkatan kualitas manusia padda berbagai periode daur kehdupan manusia dapat d kemukakan bahwa terdapat masalah yang mempengaruhi reproduksi yang mencakup gizi untuk menjamin pertumbuhan sempurna; infeksi yang di dapat karena perilaku seksual ang tidak higenis; paritas (hamil dan lahir hidup) dengan interfal kurang dari 2tahun, jumlah kehamilan di atas 4x, umur saat hamil terlalu muda, (kurang 20tahun) atau sudah tua (diatas 35tahun); proses degenerasi (kemunduran) dimana terjadi keganasan yang memerlukan kemampuan melakukan deteksi dini, sehingga kesembuhan dapat di jamin dengan pengobatan.
      Dengan tercapainya kesejahteraan masyarakat di harapkan tercapai kesehatan reproduksi yang prima, dan dapat menghasilkan status politik,sosial ekonomi, budaya, ketahanan dan keamanan keluarga tinggi, yang sangat berpengaruh terhadap kulitas individudan akhirnya secara berantaidapat meningkatkan kualitas masyarakat dan pelayanan kesehatan masyarakat.
      Secara rinci dapat di kemukakan bahwa pada masa remaja penekanan pada bagaimana menghindari bahaya infeksi alat reproduksi sehingga terhindar dari komlikasi, masa reproduksi kesehatan dapat di jaga  dengan memanfaatkan metode keluarga berencana, sehingga jumlah dan inteval kehamilan dapat di perhitungkan untuk meningkatkan kualitas reproduksi dan kualitas generasi.(Ida bagus gde,1999)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar